Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet

Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet

Dua Alat Baru Perkuat Pemantauan Gunung Slamet

Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet adalah dua buah alat yang didatangkan untuk memperkuat pemantauan aktivitas gunung berapi yang kurang bersahabat akhir-akhir ini. Dengan adanya penambahan dua alat baru tersebut, hasil pengamatan terhadap aktivitas Gunung Slamet diharapkan bisa lebih tepat dan akurat. Kondisi cuaca Gunung Slamet akhir-akhir ini memang kurang bersahabat dengan para pengamat di pos. Sejak Senin lalu, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa itu senantiasa diselimuti kabut tebal hampir sepanjang hari.

Aktivitas Gunung Slamet Terus Meningkat   

Seismometer adalah alat sensor getaran untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah sedangkan Alat Ukur Deformasi adalah alat pengukur aktivitas dan pergerakan magma dari aktifitas Gunung berapi dan bekerja secara digital untuk memantau aktivitas di perut gunung serta mengukur pergerakan magma yang menuju puncak kawah.
Gunung Slamet merupakan Gunung Berapi yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Banyumas, Tegal, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang yang merupakan Gunung paling besar juga tertinggi nomer dua di Pulau Jawa.

Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian meskipun medannya dikenal sulit. Di kaki gunung ini terletak kawasan wisata Baturraden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto.
Jalur pendakian standar adalah dari Blambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden dan dari Desa Gambuhan, Desa Jurangmangu dan Desa Gunungsari di Kabupaten Pemalang. Selain itu adapula jalur yang baru saja diresmikan tahun 2013 lalu, yaitu jalur Dhipajaya yang terletak di Kabupaten Pemalang.
Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor penyulit lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Jalur pendakian lainnya adalah melalui obyek wisata pemandian air panas Guci, Kabupaten Tegal. Meskipun terjal, rute ini menyajikan pemandangan yang paling baik. Kawasan Guci dapat ditempuh dari Slawi menuju daerah Tuwel melewati Lebaksiu.
Simulasi penanganan bencana erupsi Gunung Slamet serentak dilaksanakan di Kabupaten Purbalingga, Tegal, dan Brebes, Jumat, 14 Maret 2014. Di Kabupaten Tegal, simulasi dipusatkan di lapangan Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal
ribuan warga tampak antusias mengikuti simulasi yang digelar tim gabungan dari Komando Distrik Militer 0712/Tegal, Kepolisian Resor Tegal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tegal, Palang Merah Indonesia, dan sejumlah organisasi pemuda.
Lapangan Desa Tuwel dipilih sebagai pos pusat penanganan bencana erupsi Gunung Slamet. Simulasi yang berlangsung sejak pukul 09.00-11.00 WIB itu di bawah pengawasan Komando Resor Militer (Korem) 071/Wijayakusuma. (baca: Aktivitas Gunung Slamet Terus Meningkat )

Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet

Di lapangan berjarak sekitar 9 kilometer dari utara puncak Gunung Slamet itu didirikan delapan tenda. Tenda-tenda itu didirikan sejak Kamis sore. Tiap satu tenda mampu menampung sekitar 200 orang. Di lapangan itu juga disiapkan tempat khusus untuk menampung ternak milik warga.
Selain di lapangan Desa Tuwel, simulasi juga dilakukan di lapangan Desa Suniarsih, Kecamatan Bojong, dan lapangan Desa Batumirah, Kecamatan Bumijawa. Jarak kedua lapangan itu dari puncak Gunung Slamet berkisar 7-9 kilometer.
Sebagai subpos, di kedua lapangan itu masing-masing hanya didirikan dua tenda dengan kapasitas sama. Simulasi dimulai dengan proses pengumpulan warga di balai desa masing-masing. Selanjutnya, warga diangkut dengan sejumlah truk dan mobil bak terbuka menuju tiga lapangan tersebut.

“Kegiatan ini untuk melatih kesigapan anggota sekaligus meningkatkan kesiapan warga dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” kata Komandan Korem 071/Wijayakusuma Kolonel (Inf) Edison.
Edison mengatakan jajarannya di lima kabupaten yang berbatasan dengan Gunung Slamet telah menyiapkan seratus anggota atau satu satuan setingkat kompi (SSK). Lima kabupaten itu adalah Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Hujan abu vulkanis mulai mengguyur Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Rabu petang, 12 Maret 2014. Desa Gambuhan berada di utara Gunung Slamet, sekitar 7 kilometer dari puncaknya.

Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet

Hujan abu di desa tempat pos pengamatan Gunung Slamet ini baru sekali terjadi sejak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Slamet dari normal menjadi waspada pada Senin malam, 10 Maret 2013.
“Kalau status Gunung Slamet dinaikkan lagi, jumlah pasukan akan ditambah,” ujar Edison. Ia berujar, simulasi penanganan bencana erupsi itu sudah disosialisasikan sejak Jumat pekan lalu. “Saat itu, warga sudah bersemangat. Padahal status gunung saat itu masih normal,” ujarnya.
Menurut salah seorang warga Desa Dukuhtengah, Imam Rojai, 42 tahun, suara gemuruh dari puncak Gunung Slamet masih sering terdengar. “Biasanya, tiap sore menjelang petang. Tapi suara gemuruhnya tidak sekeras saat erupsi 2009 lalu,” kata Imam

Alat Ukur Seismometer dan Alat Ukur Deformasi Untuk Gunung Slamet

Posted in Uncategorised

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *