Kelayakan Teknis Bangunan

Kelayakan Teknis Bangunan – Setiap struktur bangunan gedung harus dalam kondisi yang baik dan memenuhi kriteria teknis bangunan yang layak baik dari segi mutu (keamanan bangunan), kenyamanan, sehingga dapat melayani kebutuhan sesuai dengan fungsinya.

Kelayakan Teknis Bangunan

Oleh karena itu, meskipun bangunan sudah berdiri dan terlihat kokoh, namun audit struktur dan analisis kelayakan teknis bangunan harus tetap dilakukan secara rutin.

Secara umum, faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja suatu gedung adalah :

  • Faktor cuaca, iklim dan lingkungan
  • Faktor kondisi tanah
  • Faktor vibrasi akibat beban yang bekerja atau penambahan beban
  • Faktor bencana alam (misalnya: gempa)
  • Faktor mutu bahan dan mutu struktur
  • Faktor pemeliharaan

Untuk mengetahui kondisi aktual struktur dibutuhkan serangkaian investigasi, mulai dari investigasi visual, pengujian sampai dengan analisis struktur bangunan. Secara umum berikut adalah pengujian kelayakan teknis bangunan :

1. Pengamatan Visual

Pengamatan visual diperlukan sebagai Indikasi awal ada atau tidaknya kerusakan. Dengan pengamatan visual kita dapat melihat kemungkinan adanya kerusakan (seperti: adanya keretakan, lendutan, korosi dll) ditabulasi dan diidentifikasi, untuk dilakukan pengujian lanjutan.

2. Pengujian

Setelah kita melakukan pengamatan visual maka selanjutnya kita dapat melakukan pengujian dengan cara :

  • Pendekatan destruktif (Destructive Test)
  • Pendekatan non-destruktif (Non-Destructive Test)

Namun belakangan dengan melihat dari segi keamanan, ekonomis, kemudahan pelaksanaan dan keandalan maka metode pengujian Non Destructive Test (NDT) menjadi pilihan yang lebih menguntungkan. Hal ini juga ditunjang dengan semakin banyak dan canggihnya alat uji NDT seperti halnya hardness tester, thickness meter, dll yang ramah dengan benda yang diuji. Dengan metode Non Destructive Test struktur tidak perlu dirusak untuk keperluan pengujian.

Pengujian Non Destructive Test (NDT) dilakukan dengan aturan – aturan teknis yang dapat mengakomodasi kondisi struktur gedung. Dengan melakukan pengujian NDT ini, bila kondisi struktur / bangunan masih dalam keadaan baik maka masih dapat difungsikan tanpa harus melakukan perbaikan akibat dilakukannya tes. Hal ini tentu akan sangat berbeda dengan metode destructive test yang akan merusak material yang diuji.

Pengujian non-destructive test yang dapat dilakukan untuk audit struktur bangunan diantaranya adalah :

  1. Hammer Test
  2. UPVT
  3. Covermeter Test atau Rebar Scan
  4. Pulse Echo Test
  5. Impact Echo Test
  6. Brinell Test
  7. Core Drill
  8. Half Cell Potential Test atau Uji Korosi Tulangan
  9. Uji Tingkat Karbonasi Beton

Selain ditinjau dari aspek struktur penyelidikan kelayakan juga akan mengidentifikasi utilitas, estetika, serta kondisi sosial dan lingkungan sekitar bangunan, apakah masih mendukung terhadap keberadaan dan fungsi bangunan.

3. Analisis struktur

Berdasarkan data hasil pengujian dibuatlah model struktur dengan bantuan software analisis struktur seperti SAP2000, ETABS, STAADpro ataupun MIDAS GEN, dari hasil analisis struktur ini akan diketahui apakah kinerja struktur mampu menahan beban-beban yang bekerja sesuai dengan fungsi bangunan. Jika Kinerja (Kapasitas Struktur) melebihi Beban yang bekerja (dengan faktor keamanan tertentu), maka bangunan dikatakan layak fungsi.

Jika tidak maka di desain perkuatan yang diperlukan dengan persyaratan layak fungsi, akan tetapi jika tidak dimungkinkan dilakukan perkuatan maka struktur bangunan dikategorikan tidak layak fungsi dan harus dirobohkan.

Perbaikan Pada Beton

Perbaikan Pada Beton – Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang banyak digunakan dalam membangun sebuah bangunan. Beton yang sering digunakan dan merupakan beton paling dasar adalah beton portland yang dibuat menggunakan campuran semen, kerikil, air dan pasir. Dengan menggunakan jenis beton ini maka Anda dapat menghemat penggunaan batu bata.

Perbaikan Pada Beton

Karena merupakan beton yang paling umum digunakan maka jenis beton ini lebih mudah didapatkan. Jenis beton ini juga tahan terhadap tekanan dan mudah dibentuk menjadi berbagai bentuk, selain itu beton ini juga tahan terhadap suhu tinggi sehingga aman bila terjadi kebakaran.

Pada daerah yang suhu udaranya dingin juga direkomendasikan menggunakan beton karena dapat menyerap panas dengan baik. Namun berbagai keunggulan tersebut hanya bisa didapatkan bila menggunakan beton yang baik, berikut adalah ciri beton yang baik :

Tidak Cacat

Beton yang baik adalah beton yang tidak memiliki rongga – rongga dan padat. Beton sendiri akan mudah hancur apabila keropon di dalamnya, hal ini juga akan membahayakan bangunan itu sendiri. Tampilan beton tersebut juga dapat mengindikasikan kekuatannya, apabila semakin tidak ada rongga dan padat maka semakin kuat beton tersebut.

Kedap Air

Beton yang baik juga haruslah tidak kedap air, adanya air yang merembes ke dalam beton dapat menyebabkan korositas pada besi tulangan. Hal ini akan menyebabkan beton lembab dan mengurangi kekuatannya.

Padat dan Tidak Menggumpal

Beton yang baik harusnya tidak menggumpal dan cenderung padat, beton yang digunakan haruslah keras dan tidak mengandung logam. Tingkat kekerasan beton ini dapat Anda uji menggunakan alat uji kekerasan beton atau hardness tester. Selain itu beton yang baik juga hanya memiliki maksimal kasar 2% untuk kandungan tanah liat, debu dan lumpur. Beton yang baik juga tidak mengandung garam,minyak dan bahan kimia lainnya.

Perbaikan Pada Beton

Beton yang cacat dapat Anda perbaiki, akan tetapi hal ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran lebih, untuk melakukannya ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan. Berikut adalah beberapa cara perbaikan pada beton :

1. Perbaikan pada Beton – Patching Spaling

Patching ini sering disebut juga dengan metode penambalan, metode ini hanya digunakan untuk retak yang kurang dari 0,3 mm. Pertama – tama bersihkan lebih dahulu beton dari debu, lalu tambal menggunakan bahan group dan barulah Anda dapat melakukan proses curing. Retak pada lantai cocok menggunakan metode ini.

2. Perbaikan pada Beton – Shotcrete

Metode shotcrete digunakan apabila keretakan yang terjadi sudah memiliki cakupan yang luas. Metode shotcrete mempunyai 2 sistem yaitu dry mix dan wet mix. Sistem dry mix merupakan campuran kering yang nantinya akan ditembakkan pada beton, sedangkan wet mix adalah campuran basah yang ditembakkan pada beton agar seragam.

3. Perbaikan pada Beton – Injection

Apabila keretakan terjadi pada struktur sebaiknya menggunakan metode injection, metode ini menggunakan material epoxy dengan viskositas rendah. Dengan begitu bagian beton akan mampu melekat dengan kuat kembali, metode ini dapat dilakukan menggunakan mesin atau secara manual.

4. Perbaikan pada Beton – Grouting

Cara perbaikan pada beton yang terakhir merupakan metode groutung yaitu dengan cara pengecoran dengan menggunakan bahan non shrink mortar. Dalam metode ini Anda harus benar – benar yakin bahwa tidak ada kebocoran karena air yang mengundang keroposan. Anda bisa menggunakan pompa atau secara manual untuk memperbaiki beton dengan cara grouting.

Ciri – Ciri Besi Full SNI

Ciri – Ciri Besi Full SNI – Besi tulang beton merupakan salah satu unsur utama dalam membangun beton struktur dan merupakan bagian yang vital. Kualitas dan kuantitas BTB (Besi Tulang Beton) akan berbanding lurus terhadap dimensi beton yang ingin dibuat atau direncanakan. Pembangunan struktur beton dengan dimensi yang semakin lebar akan memerlukan besi beton yang lebih banyak.

Ciri – Ciri Besi Full SNI

Di Indonesia sendiri semua produk yang beredar haruslah memenuhi persyaratan kualifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), hal ini juga berlaku untuk BTB. SNI adalah satu – satunya standar yang berlaku secara nasional yang disusun oleh Panitia Teknik dan Badan Standarisasi Nasional (BSN), walau begitu tetap saja masih ada BTB yang beredar di pasaran yang tidak memiliki cap SNI. Jenis besi tersebut orang – orang sering menyebutnya dengan besi non SNI, besi non full atau besi banci.

Karena memiliki dimensi yang jelas maka besi beton dapat diukur kualitasnya, selain itu besi beton juga mempunyai parameter lainnya untuk menentukan kualitasnya. Karena hal ini panjang dan dimensi besi beton juga telah memiliki standarnya tersendiri, namun kenyataannya masih banyak besi yang dibuat dengan dimensi tidak sesuai dengan SNI.

Biasanya besi non SNI juga mempunyai pangsa pasarnya tersendiri yaitu guna memenuhi proyek properti pribadi. Penggunaan besi non SNI ini biasanya adalah untuk menekan biaya pembangunan, akan tetapi hal ini mengakibatkan bangunan tidak memiliki standar yang jelas dan biasanya akan sulit terukur.

Berdasarkan bentuk penampangnya, ada dua jenis besi beton yang di perjual belikan yaitu besi polos dan besi ulir. Besi polos (BJTP) adalah besi yang mempunyai penampang berbentuk bundar dengan permukaan yang rata dan tidak bersirip, sedangkan besi ulir atau besi sirip (BJTP) adalah besi yang dibuat dengan bentuk khusus dengan permukaanya memiliki sirip melintang dan rusuk memanjang. Bentuk ini pada besi sirip berfungsi untuk meningkatkan daya lekat dan menahan gerakan membujur dari batang secara relatif.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ciri – ciri besi full SNI :

1. Label

Pemberian label (marking) adalah hal wajib yang harus dilakukan oleh para produsen besi beton untuk menandai produk buatannya, label tersebut biasanya berupa huruf timbul yang menunjukkan inisial perusahaan produsen dan ukuran diameter nominalnya. Label ini dicetak pada bagian ujung penampang besi menggunakan warna permanen dengan warna yang disesuaikan dengan kelasnya dan juga tidak mudah terhapus. Biasanya dalam label tersebut inisial produsen, warna, nomor heat, nomor seri produksi, tanggal produksi dan nomor SNI.

2. Kekuatan

Besi beton yang telah mengantongi SNI mempunyai standar tingkat kekuatan yang sudah ditentukan, sebagai contoh standar kekuatan besi polos sering diistilahkan sebagai BJTP 24. Sedangkan standar kekuatan dari besi ulir memiliki tingkatan yang dimulai dari BJTS 30, BJTS 35, sampai dengan BJTS 40 yang dapat Anda ukur menggunakan sebuah alat yang bernama hardness tester. Alat tersebut mampu menguji kekuatan logam seperti besi dengan mengukur tingkat kekerasannya.

3. Warna

Pemberian warna ini sudah disinggung di atas pada saat pemberian label, gelang warna akan menunjukkan kualitas besi tersebut. Umumnya besi dengan kualitas BJTP 24 akan ditandai dengan pemberian gelang warna hitam, berbeda dengan BJTP 30 dan BJTS 30 yang akan diberi label berwarna biru. Sedangkan BJTS 35 diberi label berwarna merah, BJTS 40 diwarnai kuning, namun pemberian warna ini juga dapat ditentukan oleh perusahaan itu sendiri.

4. Dimensi

Besi SNI mengharuskan besi beton yang dibuat dengan standar dan harus dibuat dengan dimensi sesuai ketentuan, meskipun mengalami perbedaan ukuran namun hal ini dibatasi hanya satu persen saja. Oleh karena itu sebagai konsumen maka Anda harus cermat dalam memperhatikan hal ini, sebagai contoh BJTP 10 yang seharusnya dibuat dengan diameter 10 mm, jadi bila ukurannya berkurang banyak maka Anda harus menyadarinya. Bila ukurannya berkurang 0,9 mm saja hal ini akan sangat berdampak pada kualitas bangunan tersebut. Anda juga harus memperhatikan panjang besi pula, biasanya besi SNI dibuat dengan panjang 12 m. Jadi jika panjangnya sudah berkurang hingga 0,5 m saja maka sebaiknya jangan Anda beli.

5. Harga

Tentu besi SNI dengan kualitas yang baik juga akan sebanding dengan harganya, jadi bila Anda menemui besi SNI yang dijual jauh dari harga umumnya maka ada indikasi bahwa besi tersebut bukan kualitas SNI. Jarak antara toko dan produsen juga akan menyebabkan harga yang semakin mahal karena biaya pengiriman yang semakin mahal.

Konstruksi Balok Beton Kuat

Konstruksi Balok Beton Kuat – Balok yang memiliki banyak fungsi mempunyai peran yang sangat penting dalam konstruksi beton. Balok menjadi elemen pengikat pasangan dinding, kolom – kolom, tumpuan konstruksi atap dan juga menjadi penyalur beban bangunan ke kolom, dalam hal ini balok kantilever dapat dimanfaatkan untuk penyangga kanopi.

Konstruksi Balok Beton Kuat

Bahkan pada bangunan bertingkat, balok juga difungsikan sebagai pelat lantai, balok disini berfungsi sebagai penguat horizontal yang menahan tegangan tarik dan tekan. Oleh karena itu karena fungsinya yang penting membuat balok harus mempunyai kualitas yang baik, salah satu ciri balok yang berkualitas adalah memiliki tingkat kekerasan yang baik. Lantas seperti apakah ciri balok yang keras tersebut?

Ciri – Ciri Balok Beton yang Kuat

Secara umum ada dua jenis balok beton yang umum digunakan yaitu balok tulangan maupun tanpa tulangan. Kebanyakan beton memang kuat terhadap gaya tekan, akan tetapi lemah terhadap gaya tarik. Karenanya apabila balok beton mendapat beban yang menimbulkan tegangan tarik melebihi kuat tariknya maka dapat menyebabkan balok beton tersebut mengalami keretakan.

Karenanya disini penggunaan baja tulangan sangat penting untuk menahan gaya tarikan tersebut yang mungkin akan terjadi, disini kekuatan balok beton diperbesar oleh baja tulangan. Balok beton bertulang memiliki kemampuan menahan gaya tarik lebih besar, jadi dengan kata lain balok beton bertulang memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan balok tanpa tulangan.

Kekuatan balok beton bertulang secara prinsip juga terlihat dari tampilan fisik serta daya tahannya, disini daya tahan akan berbanding lurus dengan kekuatan. Jadi kesimpulannya semakin besar daya tahannya maka kekuatan balok beton juga akan semakin kuat. Balok beton dengan daya tahan yang baik dan juga tingkat kekuatan yang baik akan memiliki ciri fisik sebagai berikut :

1. Padat dan tidak bercacat

Balok beton harus padat dan tidak bercacat yang berarti pada balok tidak terdapat rongga – rongga atau cacat apapun yang akan memicu keropos dan berpotensi mengurangi kekuatannya. Apabila balok beton semakin padat maka kekuatannya dalam menahan beban bangunan juga akan semakin besar.

2. Kedap air (tidak berpori)

Tingkat kepadatan beton yang semakin tinggi juga akan berpengaruh terhadap sifat kedap airnya. Kerapatan yang tidak maksimal disini juga akan mengakibatkan porositas yang berpengaruh terhadap kuat tekan beton, hal ini mengakibatkan daya dukung dan daya tahan balok beton menurun.

3. Memiliki daya tahan yang baik

Balok beton yang kuat juga akan memiliki daya tahan yang baik, entah itu daya tahan terhadap perubahan suhu maupun pelapukan yang akan memicu kerapuhan pada balok beton. Apabila balok beton mempunyai kekuatan yang baik maka balok beton tidak memerlukan perlindungan terhadap pelapukan seperti halnya kayu yang kuat. Kekuatan balok beton sendiri dapat diukur menggunakan alat uji NDT seperti halnya hardness tester yang dapat mengukur tingkat kekerasan suatu material.

Aspek – Aspek yang Mempengaruhi Kekuatan Balok Beton

Balok beton yang kuat sendiri karena dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu pengaruh secara langsung maupun tidak langsung, berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan balok beton :

a. Material beton dan tulangan

Tentu pertama – tama, kuat tidaknya balok beton karena dipengaruhi oleh material penyusunnya. Dalam hal ini meliputi material campuran beton dan besi tulangan dimana kualitas material penyusun seperti semen, agregat halus (pasir), agregat kasar (split) dan air harus menurut standar SNI. Hal ini juga masih harus diimbangi dengan kualitas baja tulangan yang baik pula.

b. Pembesian

Fungsi pembesian pada balok bertulang sendiri berfungsi untuk menahan gaya tarik yang nantinya akan timbul. Pembuatan tulangan balok beton ini telah ditetapkan menggunakan standar SNI, sebagai contohnya tulangan memanjang yang dipasang pada serat – serat beton yang mengalami tegangan tarik. Disini tulangan longitudinal dipasang searah sumbu batang dan pada ujung balok dekat tumpuan dipasang tulangan serong atau begel berjarak rapat. Hal ini berguna untuk mengantisipasi gaya geser, lintang dan sebagainya.

c. Material dan pemasangan bekisting

Papan bekisting yang dipakai harus rata serta bersih, penggunaan bekisting bekas yang kotor oleh sisa beton kering berpotensi menghasilkan balok keropos. Pada tiap celah bekisting harus ditutup rapat agar tidak bocor dan perancah harus kuat menyangga hingga beton kering dan mengeras. Dengan dimensi balok yang tepat dan bekisting yang baik maka akan menjamin kekuatannya.

d. Pengadukan dan pengecoran

Rasio jumlah bahan harus sesuai dengan mutu beton yang direncanakan, selain itu pengadukan dilakukan secara tepat sehingga diperoleh beton dengan kekentalan homogen. Untuk menjaga kualitas beton disini Anda dapat menggunakan mesin pengaduk beton dan dapat juga memesan beton siap pakai, saat dituang beton harus dalam kondisi plastis.

Saat pengecoran juga harus dilakukan pemadatan menggunakan batang kayu / besi atau vibrator untuk mendapatkan kepadatan yang merata. Kemudian sisi luar bekisting dapat diketuk – ketuk menggunakan palu, pemadatan disini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya segregasi dan terbentuknya rongga.

e. Pelepasan bekisting dan perawatan

Saat beton benar – benar kering dan mampu menahan beban sendiri barulah disini bekisting dapat dicopot pemasangannya. Setelah bekisting dilepas harus dilakukan perawatan (curing) balok beton dengan membasahi beton secara berkala selama waktu tertentu, hal ini bertujuan untuk mengurangi penguapan air agar beton mengering perlahan sehingga tercapai kepadatan dan kekuatan optimal.

Menguji Kekuatan Struktur Beton

Menguji Kekuatan Struktur Beton – Bangunan adalah suatu konstruksi terstruktur yang terdiri dari dinding, tiang, pondasi, atap, dll untuk keperluan tertentu sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Akan tetapi secara umum bangunan terdiri dari 2 struktur utama yaitu struktur atas dan bawah.

Menguji Kekuatan Struktur Beton

Struktur bawah merupakan struktur bangunan yang terpendam di bawah tanah seperti pondasi dan sloof untuk menopang beban bangunan atas untuk menyalurkan beban ke dalam tanah agar gaya yang terjadi tetap stabil. Berbeda dengan struktur atas yang memang berada di atas tanah kolom, balok, plat dan atap yang berbeda dari segi fungsinya.

Pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik sangat rawan terhadap keruntuhan, oleh karenanya dibutuhkan ketepatan dan ketelitian tinggi dalam merancang struktur bangunan serta berbagai pengujian agar mengetahui tingkat keamanan pada bangunan itu.

Pengujian ini salah satunya adalah pengujian tingkat kekerasan beton bangunan, kekerasan beton sendiri akan berpengaruh pada kekuatan bangunan. Pengujian ini dapat dilakukan menggunakan alat uji NDT seperti halnya hardness tester.

Pembuatan beton haruslah sesuai dengan standar yang telah ditentukan untuk menahan beban mati (dead load), beban hidup (live load), beban gempa (earthquake) dan beban angin (wind load) agar setiap komponen bekerja dengan baik dan maksimal.

Akan tetapi kekuatan beton dapat berkurang karena ada empat hal, yaitu :

  1. Faktor alam
  2. Faktor getaran akibat gempa
  3. Faktor mutu dan bahan bangunan yang kurang baik
  4. Faktor pemeliharaan yang kurang

Untuk mengetahui kondisi beton apakah masih baik atau perlu direnovasi dapat dilakukan dengan melakukan pengujian NDT, pengujian ini merupakan pengujian yang tidak merusak bahan uji atau Non Destructive Test (NDT).

Anda dapat menggunakan alat Concrete Covermeter Test Rebar Detector yang berfungsi untuk menguji pengukuran pada beton dengan cara menempelkan alat scan pada beton. Kemudian bagian – bagian di dalam beton akan langsung terlihat melalui angka, setelah melakukan pengujian langsung diberi tanda pada beton yang rusak tersebut.

Cara menggunakan alat Concrete Convermeter Test sangatlah mudah yaitu :

  1. Tempelkan sensor atau alat scan pada objek beton yang ingin di uji
  2. Kemudian hasil akan terlihat pada layar monitor
  3. Catat angka yang dihasilkan oleh hasil pengujian untuk melakukan analisa selanjutnya.

Cara merawat alat ini juga sangat mudah

  1. Setelah pengujian, lepaskan beberapa instrument dan bersihkan dengan kain kering
  2. Simpan alat ditempat kering dan jauhkan dari air terutama pada bagian sensor.

Syarat Pondasi Rumah 2 Lantai

Syarat Pondasi Rumah 2 Lantai – Pondasi rumah tinggal yang kuat adalah syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan berdirinya sebuah bangunan yang kokoh dengan berbagai model arsitektur rumah. Berbagai jenis pondasi dapat Anda gunakan dalam membangun rumah yang tentunya setiap jenis pondasi memiliki kelebihan maupun kekurangannya masing – masing. Tentunya pemilihan jenis pondasi ini disesuaikan dengan kebutuhan bangunan dan memperhatikan kondisi tanah.

Syarat Pondasi Rumah 2 Lantai

Yang membutuhkan perhatian khusus adalah saat kita akan membangun rumah 2 lantai, disini Anda dapat menggunakan pondasi batu kali dan foot plat pada area kolom struktur. Sedangkan untuk rumah 1 lantai maka cukup menggunakan pasangan batu kali. Hal ini karena beban yang harus ditahan pondasi tidak terlalu berat atau pada situasi tertentu yang hanya merupakan bangunan kayu atau bambu yang ringan maka dapat menggunakan pondasi rollag dari pasangan batu bata.

Jenis pondasi yang digunakan juga harus disesuaikan dengan kondisi tanah, tentu kita tidak mau rumah yang sudah kita bangun mengalami penurunan. Hal ini tentu membahayakan kekuatan struktur bangunan sebagai contoh pada tanah yang lembek akan lebih baik jika menggunakan pondasi cakar ayam. Pondasi cakar ayam memiliki prinsip seperti akar serabut pohon kelapa yang meski tumbuh dipinggir pantai dengan tanah lembek masih mampu berdiri kokoh menjulang tinggi. Berbeda dengan tanah keras yang dapat menggunakan jenis pondasi pasangan batu kali.

Karena merupakan bagian yang vital, maka pondasi yang dibuat harus benar – benar dipastikan aman dan kuat. Kekuatan pondasi sendiri kini dapat Anda ukur menggunakan hardness tester yang akan menguji tingkat kekerasan beton pondasi. Pondasi yang kuat juga akan memastikan kuatnya bangunan yang ada di atasnya.

Selain jenis pondasi, tipe bangunan juga perlu dipertimbangkan ketika akan membangun bangunan. Anda harus menentukan apakah bangunan tersebut merupakan rumah tinggal sederhana atau bangunan bertingkat tinggi. Apabila Anda akan membangun gedung berlantai banyak maka Anda dapat menggunakan pondasi tiang pancang atau pondasi bor pile dengan kedalaman pemancangan sampai ke titik lapisan tanah keras.

Lapisan tanah keras tersebut dapat diketahui dengan cara melakukan tes tanah sebelum merencanakan pondasi bangunan bertingkat tinggi. Sedangkan untuk pondasi rumah sederhana cukup dengan menggunakan pondasi batu kali yang tidak terlalu rumit.

Dengan penambahan foot plat beton bertulang pada titik – titik berdirinya struktur kolom rumah maka pondasi batu kali maka pondasi dapat digunakan untuk rumah 2 lantai. Foot plat ini dibuat dengan ukuran pondasi menyesuaikan perhitungan perencanaan pondasi terkuat sehingga bangunan bertingkat tersebut benar – benar tangguh dan sanggup berdiri kokoh tanpa mengalami keretakan dinding atau bahkan kerobohan bangunan akibat struktur pondasi yang tidak kuat.

Penyebab Struktur Beton Retak

Penyebab Struktur Beton Retak – Beton merupakan bagian dari bangunan yang dibuat dengan campuran berbagai agregat seperti pasir, batu dan semen sebagai perekatnya. Beton bangunan ini banyak digunakan pada berbagai bagian bangunan dan tentunya setiap bagian membutuhkan komposisinya tersendiri.

Penyebab Struktur Beton Retak

Meskipun sudah menggunakan bahan yang baik, mungkin sering kali beton bangunan ini akan mengalami retak yang mungkin terjadi. Retak pada beton ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti halnya :

1. Perencanaan yang keliru

Meskipun sudah menggunakan jasa konsultan perencana dalam merencanakan bangunan pasti ada kalanya mengalami kegagalan juga. Oleh karena itu diperlukan koreksi dari pihak lain, hal ini bukan berarti orang yang dikoreksi lebih bodoh namun justru orang yang senang akan dikritik merupakan orang yang pintar. Faktor kesalahan dalam pengambilan data, salah rumus, salah hitung, salah pencet keyboard, dll juga dapat menyebabkan salah dalam perencanaan yang dapat menyebabkan ketidaktepatan dalam pemilihan ukuran struktur beton, jumlah dan ukuran besi yang digunakan, serta kualitas beton yang akan dipakai.

2. Pembebanan yang terlalu cepat

Beton yang dibuat tanpa menggunakan campuran khusus maka tingkat kekuatan maksimalnya adalah saat mencapai umur kurang lebih 28 hari. Ini berarti bila sebelum umur tersebut bila beton mendapatkan beban berlebih atau terlalu cepat diberi pembebanan maka dapat menyebabkan masalah pada beton bangunan mulai dari retak hingga patah.

3. Bekisting / cetakan beton yang tidak kuat

Balok atau plat lantai yang cetakannya tidak kuat akan berpotensi mengalami lendutan, dan apabila lendutan ini terjadi di luar batas yang dapat diatasi beton maka dapat menyebabkan masalah mulai dari retak halus maupun yang kasar.

4. Pelaksanaan yang keliru

Pengawasan yang ketat dalam melaksanakan pekerjaan beton bertulang sangat diperlukan untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai. Sesuai disini adalah sesuai dari spesifikasi ukuran dan jumlah dalam perencanaan. Sebagai contoh besi yang dipakai tidak lebih kecil dari rencana, kualitas beton yang digunakan sesuai dengan rencana dan pengawasan juga dimaksudkan untuk mengecek kualitas bekisting dan perawatan yang benar. Disini Anda dapat menguji kekuatan beton menggunakan alat yaitu Hardness Tester.

5. Perawatan pasca pengecoran beton yang keliru

Setelah pekerjaan pengecoran perlu dilakukan curing sebagai upaya untuk memperlambat pengerasan beton agar tidak terlalu cepat. Beton yang terlalu cepat mengeras juga akan menyebabkan retak, curing ini dilakukan dengan cara penyiraman, menutup dengan karung basah atau dapat juga dengan mencampurkan bahan tertentu pada adukan beton.

6. Terjadi hal yang diluar dugaan

Selain faktor diatas, adanya hal diluar dugaan seperti halnya bencana alam gempa bumi dahsyat, tsunami, boom atau memang sengaja menghancurkan beton juga dapat menyebabkan masalah pada beton.

Menguji Kekerasan Material

Menguji Kekerasan Material – Setiap material pastilah mempunyai sifat maupun kekuatannya masing – masing, dan untuk mengetahui hal tersebut kita dapat melakukan pengujian terhadap material tersebut. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan untuk membuat material tersebut bertahan lebih lama, menentukan beban yang tepat  dan sebagai standar kualitas untuk material itu sendiri.

Menguji Kekerasan Material

Tentu kekuatan dari setiap materi akan berbeda – beda dimana semakin tinggi nilai kekuatan material maka semakin besar energi yang dibutuhkan untuk menimbulkan jejak pada permukaanya atau merubah bentuknya. Kekarasan material umumnya akan sama dengan kekuatan tariknya yang artinya jika kekerasan pada material tinggi maka kekuatan tariknya juga akan tinggi.

Lantas bagaimana cara mengetahui tingkat kekerasan suatu material?

Dengan pengujian Hardness Test atau pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kekerasan pada suatu material menggunakan sebuah alat yang dinamakan Hardness Tester. Pengujian kekerasan suatu material (hardness test) ini merupakan pengujian yang paling efektif dan mudah untuk mengetahui tingkat kekerasan material tersebut.

Secara umum pengujian kekerasan tersebut dapat dibagi menjadi 4 yaitu Brinell Hardness, Rockwell Hardness, Vicker Hardness dan Micro Hardness yang mana keempat metode pengujian tersebut secara garis besar akan menguji tingkat kekerasan pada material dengan menggunakan pembebanan yang berbeda.

Pada awalnya pengujian kekerasan pada suatu material dilakukan dengan cara merusak material tersebut atau setidaknya sedikit merusak material tersebut. Pengujian dilakukan dengan memberikan penekanan pada material sehingga menyebabkan material sedikit cekung atau bahkan cekung. Dari kekuatan penekanan yang digunakan akan diketahui tingkat kekerasan material, namun bila material tersebut dirusak tentu tidak akan dapat digunakan lagi.

Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini berkembang pengujian kekerasan material tanpa merusak material tersebut atau NDT (Non Destructive Test). Pengujian cara ini memungkinkan material hasil pengujian dapat digunakan lagi. Pengujian ini biasanya dilakukan menggunakan alat ukur yang memanfaatkan gelombang ultrasonik yang dirambatkan melalui material.

Alat Uji NDT terbaik di Indonesia bisa Anda dapatkan di CV. Java Multi Mandiri yang merupakan distributor untuk alat ukur dan alat uji terbaik di Indonesia. Kami juga memberikan garansi untuk setiap produk kami selama 1 tahun, Anda juga akan mendapatkan customer support gratis dalam setiap pembelian produk kami.

Dasar Dasar Konstruksi Bendungan

Dasar Dasar Konstruksi Bendungan – Bendungan merupakan sebuah bangunan yang berfungsi untuk mengepang air ataupun meninggikan permukaan air. Pembuatannya didesain sedemikian rupa agar air melewati atas mercunya.

Dasar Dasar Konstruksi Bendungan

Oleh karena itu bendungan harus dipastikan dibuat dari bahan atau material yang kuat untuk menahan luapan air dari sumbernya. Pada dasarnya bangunan bendungan terdiri dari beton atau pasangan batu kali atau batu gunung.

Kekuatan beton tersebut tentu harus dipastikan mampu menahan debit air, biasanya dalam pembuatan bendungan akan digunakan alat uji NDT untuk memastikan kekuatan dari beton bangunan tersebut. Selain itu bentuk bendungan juga harus memenuhi syarat tidak akan tergeser dan tidak akan terguling saat menahan aliran air.

Pembuatan bendungan juga harus dibuat kuat agar tidak tergerus oleh air yang terjun yang dalam pembuatannya sering diberi lantai dari pasangan batu. Bangunan bendungan sendiri juga harus sungguh – sungguh dapat berfungsi untuk menahan air dan tidak boleh ada sebagian air yang mengalir melalui bawah bendungan.

Batu yang digunakan dalam pembuatan bendungan harus dipastikan keras, dengan celah yang tipis. Selain itu tembok dan dinding untuk tebing sungai dibuat paling tidak 80 cm – 100 cm di atas kedudukan air.

Kemudian untuk melindungi tepi – tepi tersebut dibuatlah pasangan pada tebing sungai, baik untuk sebelum hulu bendung maupun hilir. Hulu bendung dibuat sepanjang 10 – 15 meter sedangkan hilirnya dengan panjang 15 – 25 meter.

Tempat bendung akan mendapatkan olakan air yang paling besar sehingga sangat berpotensi merusak bendungan. Karenanya dinding ini dibuat menggunakan pasangan batu, pasangan batu pelindung dinding tebing. Dinding ini kemudian diakhiri dengan bentuk kerucut yang dimasukkan ke dalam tanah lebih dari 1 meter yang digunakan untuk meminimalisir penggerusan.

Membangun sebuah bendungan juga ditentukan berdasarkan kekuatan tanahnya, sifat – sifatnya dan jenis tanah. Oleh karena itu proses penyelidikan tanah seperti proses penyondiran dan pengumpulan data, guna mengetahui jenis – jenis dan sifat – sifat tanah harus dilakukan lebih dahulu sebelum membangun bendungan.

Disini contoh atau sampel tanah akan diambil untuk diteliti sifat dan jenisnya guna membangun pondasi sebuah bangunan bendungan. Selanjutnya tebing – tebing dan dasar sungai akan dilengkapi dengan lapisan batu kosong atau diberi lapisan pasangan batu maupun beton yang berguna untuk menahan tenaga air yang besar. Sedangkan di bagian hilir bendung biasanya terdapat sebuah ruangan dimana air bergolak – golak yang disebut dengan kolam peredam energi.

Selain itu penguatan tepi sungai atau pembuatan tanggul juga perlu dipertimbangkan, hal ini berguna sebagai penangkis banjir yang panjang. Bagian ini juga menghubungkan antara tanggul penangkis tersebut dengan tanah yang tinggi. Pembuatan perlindungan dasar sungai di bagian hilir ini dibuat menggunakan lantai dan sebaiknya ditambah dengan pasangan batu kosong atau dengan blok – blok beton.