Pengukuran Ketebalan Beton

Pengukuran Ketebalan Beton – Beton merupakan bagian dari bangunan yang terbuat dari bahan agregat dan perekat, agregat disini dapat berupa pasir, batu, kapur dan pengikatnya biasa dari semen. Beton semen Portland adalah jenis beton yang umum digunakan, jenis beton ini dibuat dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air.

Pengukuran Ketebalan Beton

Kualitas sebuah bangunan disini akan sangat dipengaruhi oleh kualitas beton bangunannya, karenanya dibutuhkan pengukuran dan pengujian yang mampu memberikan data yang akurat mengenai kualitas beton. Untuk melakukan pengujian tersebut Anda dapat menggunakan alat uji NDT yang dapat digunakan untuk menguji kekuatan beton tanpa perlu merusaknya.

Alat uji NDT jenis Rebar locator dapat digunakan untuk mendeteksi ketebalan lapisan meliputi beton dan diameter rebar. Selain itu dalam menentukan lokasi konduktor substansi dan listrik magnet dalam medium non-magnetik dan non-konduktif juga dapat dilakukan menggunakan alat ini. Sebagai contohnya adalah dalam mendeteksi kabel di dalam tubuh dinding maupun pipa pemanas dll dapat dilakukan menggunakan alat ini tanpa harus merusak struktur dinding maupun pipa.

Pengukuran Ketebalan Beton

Seperti namanya, rebar locator ini digunakan untuk menemukan baja tulangan dan pipa logam dalam proyek konstruksi sebuah kunci untuk memastikan pembangunan yang aman dan pemeliharaan struktur beton.Sebelum memulai dalam pada setiap pekerjaan pemeliharaan, sangat penting untuk mengidentifikasi lokasi, orientasi dan kedalaman logam dalam struktur beton. Kekeliruan pengeboran ke pipa logam dapat bersifat merusak dan mahal.

Demikian pula, pengeboran ke struktur beton tanpa pengukuran yang tepat dapat menghancurkan bor mahal dan lebih buruk lagi, dapat menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan.

Rebar locator  adalah alat yang tepat digunakan untuk tingkat akurat dari lokasi yang baik, selimut beton dan diameter rebar pada konstruksi bertulang yang tersedia dalam banyak merek dan model rebar locator. Sebagian jenis alat ini ada yang memanfaatkan medan elektromagnetik berfrekuensi rendah untuk menemukan benda besi dalam struktur. Akan tetapi teknologi terbarunya sudah menggunakan radar penembus tanah untuk menemukan baja dan objek lainnya dalam struktur.

Oleh karena itu untuk menemukan, mengevaluasi dan mengukur tebal selimut beton sangat tepat dilakukan menggunakan alat ini. Rebar detector terbaik dengan garansi alat selama 1 tahun penuh bisa Anda dapatkan hanya di CV. Java Multi Mandiri.

Sifat dan Jenis Logam Industri

Sifat dan Jenis Logam Industri – Logam merupakan unsur atau senyawa yang tidak bisa dilewati cahaya dan juga dapat menjadi penghantar listrik yang baik. Logam sendiri mempunyai struktur yang keras dan merupakan unsur dengan daya tahan yang tinggi yang menyebabkannya tidak mudah hancur atau rusak ketika ditempa.

Sifat dan Jenis Logam Industri

Sedangkan berdasarkan tabel periodik, unsur logam ditempatkan untuk seluruh unsur yang kadar beratnya diatas helium. Logam sendiri diolah menjadi bermacam bentuk kombinasi atau komponen suatu benda yang biasa kita gunakan sehari – hari seperti spare part otomotif, industri manufaktur, elektronik, industri kesehatan hingga mainan.

Sifat Logam

Dalam dunia industri sendiri, logam haruslah mempunyai sifat dan jenis tertentu yang telah ditentukan, yaitu :

Dapat Merenggang dan Kuat Ditempa

Logam memiliki lapisan dan susunan atom yang berbeda sehingga ketika susunan atomnya semakin simetris maka logam dapat merenggang dengan mudah dan juga tahan ketika ditempa.

Ketahanan yang Tinggi

Setiap logam dapat ditambah kekuatannya dengan cara mencampur dengan logam yang lainnya. Bisa juga dengan mencampur logam dengan material non logam atau yang biasa disebut aliase. Pada umumnya, material yang mengandung alias digunakan pada konstruksi bangunan dan juga komponen pada industri otomotif.

Dapat Mengalirkan Arus Listrik dengan Cepat

Selain digunakan pada industri, logam juga sering dipakai sebagai bahan baku dalam membuat kabel listrik. Alasannya, logam memiliki sifat dapat mengalirkan arus listrik dengan mudah dan cepat.

Penghantar Panas yang Bagus

Bukan hanya listrik, ternyata logam juga bisa menghantarkan panas dengan sangat cepat dari satu ujung ke ujung lainnya. Hal ini dikarenakan ketika logam menerima panas maka energi kinetic pada electron logam akan bertambah cepat sehingga panas bisa dihantarkan dengan cepat.

Mengkilap Jika Terkena Pantulan Cahaya dan Setelah Digosok

Logam memiliki permukaan yang halus dan padat sehingga akan terlihat mengkilap ketika terkena cahaya ataupun setelah digosok.

Macam – Macam Jenis Logam

Logam Ferrous

Biasanya logam jenis ini disebut besi atau baja karbon. Biasanya, besi sering digunakan sebagai material dasar dalam dunia teknik. Namun, besi murni masih sangat rapuh jika dipakai untuk pembangunan dan material bahan kerja lainnya. Maka dari itu, besi murni seringkali dicampur dengan berbagai macam unsur yang salah satunya adalah karbon atau zat arang (C). Beberapa macam logam ferrous yaitu besi tempa, besi tuang, baja lunak, baja karbon tinggi, baja karbon campuran dan lainnya.

Logam Non Ferrous

Sedangkan pada logam non ferrous tidak mengandung unsur besi (fe) di dalamnya. Jenis-jenis logam non ferrous yaitu Alumunium (Al), Tembaga (Cu), Timbal (Pb), Timah (Sn).

Macam – Macam Uji Logam

Uji Kekerasan (Hardness Test)

Pengujian ini dilakukan untuk mengukur nilai kekerasan pada material logam yang digunakan sebagai bahan dasar ataupun komponen pada proses industri. Dengan mengetahui nilai kekerasan maka bisa dijadikan rujukan untuk menentukan standar kualitas material tersebut. Dalam pengujian ini, alat yang digunakan adalah hardness tester.

Uji Tarik

Pada pengujian ini, ada beberapa parameter yang akan dinilai seperti ketahanan dan regangan. Metode kerjanya sederhana, yaitu menarik material logam hingga batas maksimal yang sudah ditentukan. Untuk pengujian tarik menggunakan alat yang disebut mesin Tensile Strength.

Uji Tekan

Uji tekan dilakukan untuk mengukur daya tahan logam pada saat diberi daya tekan hingga nilai batas maksimal. Hal ini bertujuan untuk mengukur maksimal beban yang mampu diterima ketika memasuki proses produksi.

Analisa Getaran Pada Mesin

Analisa Getaran Pada Mesin – Analisis Getaran merupakan salah satu faktor pendukung untuk meminimalisir terjadinya getaran yang berlebih pada mesin. Hal ini sering dikeluhkan para pemilik kendaraan karena mesin cepat mengalami getaran yang menyebabkannya cepat aus karena efek dari getaran tersebut.

Analisa Getaran Pada Mesin

Kehausan mesin ini seringkali terjadi dalam jangka waktu yang cepat padahal perbaikan mesin selalu menggantikan spare part lama dengan spare part baru. Lantas kenapa getaran tersebut menjadi indikator dari masalah keausan mesin padahal setiap spare part yang rusak selalu diganti.

Analisa Getaran Pada Mesin

Penjelasan singkatnya adalah, mesin merupakan serangkaian komponen yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Jika satu komponen mengalami kerusakan atau keausan, tidak menutup kemungkinan untuk komponen mesin lainnya menerima dampak negatif dari komponen yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu, bila digantikan spare part hanya pada satu bagian saja tanpa memperhatikan komponen lainnya.

Mungkinan spare part yang baru digantikan juga dapat mengalami keausan sesuai dengan waktu yang begitu singkat, sebagai contohnya satu poros kopling bertumpu dengan komponen penyanggah poros. Sedangkan posisi poros mengalami misalignment sehingga seiring berjalannya waktu, poros akan mengalami keausan pada mesin dan dapat menyebabkan kerusakan yang merambat ke komponen – komponen lainnya.

Karenanya juga diperlukan condition monitoring dan pengendalian serta pengujian atau analisa getaran pada mesin dalam proses perawatan mesin. Analisa getaran ini yang lebih dikenal dengan istilah vibration analysis. Analisa getaran ini dapat kita lakukan menggunakan bantuan sebuah alat ukur yang disebut dengan vibration meter.

Perawatan mesin sangat diperlukan untuk menjaga keamanan kinerja mesin demi kenyamanan para pekerja dan untuk menjaga kestabilan mesin agar terkendali, sangat diperlukan proses vibration analysis. Kondisi ketidaksinambungan serta meliputi parameter operasi suatu mesin dapat berdampak kepada aspek – aspek lainnya seperti terjadi perubahan beban, perubahan kecepatan kerja, perubahan tekanan operasi, atau perubahan temperatur operasi apapun yang dapat menyebabkan perubahan kondisi getaran.

Proses vibration analysis sangat penting untuk membantu memperoleh hasil pengujian dari getaran yang sering terjadi pada mesin-mesin industri. Analisa getaran merupakan upaya untuk meminimalisir kerusakan komponen mesin merambat ke komponen – komponen mesin lainnya. Analisa getaran juga mempunyai fungsi guna mengetahui struktur mesin apakah masih dalam kondisi stabil yang sesuai dengan standar atau sebaliknya. Jadi para pengelola industri dapat mengambil tindakan untuk menghindari kerugian yang disebabkan getaran-getaran mesin yang pada umumnya dianggap bukan masalah serius.

Mengukur Ketebalan Cat

Mengukur Ketebalan Cat – Beberapa industri atau perusahaan sangat memerlukan pengujian kualitas cat untuk mencapai standar kualitas ketebalan cat. Pengujian ini biasa dilakukan pada material – material seperti baja, aluminium, timah, logam lain dan material non logam. Salah satu hal yang menentukan hasil pelapisan cat tidak hanya ditentukan oleh jenis cat yang digunakan, tetapi juga oleh parameter aplikasi cat seperti ketebalan lapisan cat dan besarnya nilai kekasaran permukaan substrat yang dihasilkan, faktor kondisi lingkungan dimana substrat ditempatkan dan persiapan permukaan sebelum pelapisan juga perlu diperhatikan.

Mengukur Ketebalan Cat

Proses pengecatan atau coating merupakan proses  manufaktur akhir yang  dibutuhkan untuk melapisi semua  komponen yang dibuat. Tujuan dari  pelapisan cat sendiri untuk meningkatkan penampilan, ketahanan terhadap air, ketahanan dari goresan atau bahkan untuk keausan. Oleh karena itu proses pengecatan ini merupakan salah satu proses yang membutuhkan anggaran dana besar pada pelaksanaanya. Perbaikan pada lapisan cat akan memakan waktu yang relatif lama dan memakan biaya sehingga akan memperlambat selesainya suatu komponen.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengujian kualitas cat meliputi :

  1. Coating Thickness secara visual

Maksudnya pengujian dilakukan dengan melihat secara langsung kerusakan – kerusakan pengecatan yang dapat diketahui secara visual, misalnya : popping, pinhole, orange peel, cratering (lubang kawah) motling, meler (sagging), dry spray , kotor, cat berbintik – bintik dan lain – lain. Pengukuran ini dapat dilakukan menggunakan coating thickness meter.

  1. Ketebalan (thickness)

Bertujuan untuk mengetahui ketebalan (thickness) cat di permukaan suatu material atau benda yang dicat karena pengecatan terdiri dari beberapa kali proses seperti pengecatan dasar (Primer), pengecatan antara (under coat) dan pengecatan tutup (top coat). Pengukuran ini dapat dilakukan menggunakan bantuan alat yang disebut thickness meter.

  1. Adhesion

Tingkat kerekatan cat pada benda kerja baik metal maupun plastik juga perlu dilakukan pengukuran karena hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pengelupasan pada part yang sudah dicat. Metode cross cut digunakan dalam pengukuran ini.

  1. Kekerasan (hardness)

Pengujian kekerasan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kekerasan cat yang terdapat pada logam atau plat.

  1. Corrosion Resistance (ketahanan korosi)

Pengujian ini sering juga disebut dengan “Salt spray” yang merupakan pengujian cat dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan cat dalam menahan timbulnya karat.

Cacat Pengecatan dan Penyebabnya

Tentu proses pengecatan juga dapat mengalami kesalahan atau cacat, salah satu kesalahan dalam pengecatan adalah ketebalan lapisan cat yang tidak sesuai standar. Ketebalan cat yang tidak sama atau tidak sesuai standar juga dapat dipengaruhi karena faktor seperti cat meleleh. Hal ini menyebabkan cat tidak rata dan pada bagian tertentu catnya sangat tebal yang biasanya terdapat pada permukaan yang tegak atau menyudut. Untuk lebih jelasnya berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkannya :

  • Thinner yang terlalu banyak dan terlalu lama menguap
  • Kurang meratanya lapisan cat dan hanya tebal pada satu beberapa bagian saja
  • Cat disemprotkan terlalu sering tanpa waktu tunggu yang cukup antara pelapisan yang satu dengan yang berikutnya
  • Jarak alat semprot dengan permukaan yang akan dicat terlalu dekat
  • Tekanan udara yang terlalu rendah
  • Cairan yang keluar dari alat semprot terlalu banyak
  • Viskositas cat penyemprotan terlalu rendah

Kelayakan Teknis Bangunan

Kelayakan Teknis Bangunan – Setiap struktur bangunan gedung harus dalam kondisi yang baik dan memenuhi kriteria teknis bangunan yang layak baik dari segi mutu (keamanan bangunan), kenyamanan, sehingga dapat melayani kebutuhan sesuai dengan fungsinya.

Kelayakan Teknis Bangunan

Oleh karena itu, meskipun bangunan sudah berdiri dan terlihat kokoh, namun audit struktur dan analisis kelayakan teknis bangunan harus tetap dilakukan secara rutin.

Secara umum, faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja suatu gedung adalah :

  • Faktor cuaca, iklim dan lingkungan
  • Faktor kondisi tanah
  • Faktor vibrasi akibat beban yang bekerja atau penambahan beban
  • Faktor bencana alam (misalnya: gempa)
  • Faktor mutu bahan dan mutu struktur
  • Faktor pemeliharaan

Untuk mengetahui kondisi aktual struktur dibutuhkan serangkaian investigasi, mulai dari investigasi visual, pengujian sampai dengan analisis struktur bangunan. Secara umum berikut adalah pengujian kelayakan teknis bangunan :

1. Pengamatan Visual

Pengamatan visual diperlukan sebagai Indikasi awal ada atau tidaknya kerusakan. Dengan pengamatan visual kita dapat melihat kemungkinan adanya kerusakan (seperti: adanya keretakan, lendutan, korosi dll) ditabulasi dan diidentifikasi, untuk dilakukan pengujian lanjutan.

2. Pengujian

Setelah kita melakukan pengamatan visual maka selanjutnya kita dapat melakukan pengujian dengan cara :

  • Pendekatan destruktif (Destructive Test)
  • Pendekatan non-destruktif (Non-Destructive Test)

Namun belakangan dengan melihat dari segi keamanan, ekonomis, kemudahan pelaksanaan dan keandalan maka metode pengujian Non Destructive Test (NDT) menjadi pilihan yang lebih menguntungkan. Hal ini juga ditunjang dengan semakin banyak dan canggihnya alat uji NDT seperti halnya hardness tester, thickness meter, dll yang ramah dengan benda yang diuji. Dengan metode Non Destructive Test struktur tidak perlu dirusak untuk keperluan pengujian.

Pengujian Non Destructive Test (NDT) dilakukan dengan aturan – aturan teknis yang dapat mengakomodasi kondisi struktur gedung. Dengan melakukan pengujian NDT ini, bila kondisi struktur / bangunan masih dalam keadaan baik maka masih dapat difungsikan tanpa harus melakukan perbaikan akibat dilakukannya tes. Hal ini tentu akan sangat berbeda dengan metode destructive test yang akan merusak material yang diuji.

Pengujian non-destructive test yang dapat dilakukan untuk audit struktur bangunan diantaranya adalah :

  1. Hammer Test
  2. UPVT
  3. Covermeter Test atau Rebar Scan
  4. Pulse Echo Test
  5. Impact Echo Test
  6. Brinell Test
  7. Core Drill
  8. Half Cell Potential Test atau Uji Korosi Tulangan
  9. Uji Tingkat Karbonasi Beton

Selain ditinjau dari aspek struktur penyelidikan kelayakan juga akan mengidentifikasi utilitas, estetika, serta kondisi sosial dan lingkungan sekitar bangunan, apakah masih mendukung terhadap keberadaan dan fungsi bangunan.

3. Analisis struktur

Berdasarkan data hasil pengujian dibuatlah model struktur dengan bantuan software analisis struktur seperti SAP2000, ETABS, STAADpro ataupun MIDAS GEN, dari hasil analisis struktur ini akan diketahui apakah kinerja struktur mampu menahan beban-beban yang bekerja sesuai dengan fungsi bangunan. Jika Kinerja (Kapasitas Struktur) melebihi Beban yang bekerja (dengan faktor keamanan tertentu), maka bangunan dikatakan layak fungsi.

Jika tidak maka di desain perkuatan yang diperlukan dengan persyaratan layak fungsi, akan tetapi jika tidak dimungkinkan dilakukan perkuatan maka struktur bangunan dikategorikan tidak layak fungsi dan harus dirobohkan.

Perbaikan Pada Beton

Perbaikan Pada Beton – Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang banyak digunakan dalam membangun sebuah bangunan. Beton yang sering digunakan dan merupakan beton paling dasar adalah beton portland yang dibuat menggunakan campuran semen, kerikil, air dan pasir. Dengan menggunakan jenis beton ini maka Anda dapat menghemat penggunaan batu bata.

Perbaikan Pada Beton

Karena merupakan beton yang paling umum digunakan maka jenis beton ini lebih mudah didapatkan. Jenis beton ini juga tahan terhadap tekanan dan mudah dibentuk menjadi berbagai bentuk, selain itu beton ini juga tahan terhadap suhu tinggi sehingga aman bila terjadi kebakaran.

Pada daerah yang suhu udaranya dingin juga direkomendasikan menggunakan beton karena dapat menyerap panas dengan baik. Namun berbagai keunggulan tersebut hanya bisa didapatkan bila menggunakan beton yang baik, berikut adalah ciri beton yang baik :

Tidak Cacat

Beton yang baik adalah beton yang tidak memiliki rongga – rongga dan padat. Beton sendiri akan mudah hancur apabila keropon di dalamnya, hal ini juga akan membahayakan bangunan itu sendiri. Tampilan beton tersebut juga dapat mengindikasikan kekuatannya, apabila semakin tidak ada rongga dan padat maka semakin kuat beton tersebut.

Kedap Air

Beton yang baik juga haruslah tidak kedap air, adanya air yang merembes ke dalam beton dapat menyebabkan korositas pada besi tulangan. Hal ini akan menyebabkan beton lembab dan mengurangi kekuatannya.

Padat dan Tidak Menggumpal

Beton yang baik harusnya tidak menggumpal dan cenderung padat, beton yang digunakan haruslah keras dan tidak mengandung logam. Tingkat kekerasan beton ini dapat Anda uji menggunakan alat uji kekerasan beton atau hardness tester. Selain itu beton yang baik juga hanya memiliki maksimal kasar 2% untuk kandungan tanah liat, debu dan lumpur. Beton yang baik juga tidak mengandung garam,minyak dan bahan kimia lainnya.

Perbaikan Pada Beton

Beton yang cacat dapat Anda perbaiki, akan tetapi hal ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran lebih, untuk melakukannya ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan. Berikut adalah beberapa cara perbaikan pada beton :

1. Perbaikan pada Beton – Patching Spaling

Patching ini sering disebut juga dengan metode penambalan, metode ini hanya digunakan untuk retak yang kurang dari 0,3 mm. Pertama – tama bersihkan lebih dahulu beton dari debu, lalu tambal menggunakan bahan group dan barulah Anda dapat melakukan proses curing. Retak pada lantai cocok menggunakan metode ini.

2. Perbaikan pada Beton – Shotcrete

Metode shotcrete digunakan apabila keretakan yang terjadi sudah memiliki cakupan yang luas. Metode shotcrete mempunyai 2 sistem yaitu dry mix dan wet mix. Sistem dry mix merupakan campuran kering yang nantinya akan ditembakkan pada beton, sedangkan wet mix adalah campuran basah yang ditembakkan pada beton agar seragam.

3. Perbaikan pada Beton – Injection

Apabila keretakan terjadi pada struktur sebaiknya menggunakan metode injection, metode ini menggunakan material epoxy dengan viskositas rendah. Dengan begitu bagian beton akan mampu melekat dengan kuat kembali, metode ini dapat dilakukan menggunakan mesin atau secara manual.

4. Perbaikan pada Beton – Grouting

Cara perbaikan pada beton yang terakhir merupakan metode groutung yaitu dengan cara pengecoran dengan menggunakan bahan non shrink mortar. Dalam metode ini Anda harus benar – benar yakin bahwa tidak ada kebocoran karena air yang mengundang keroposan. Anda bisa menggunakan pompa atau secara manual untuk memperbaiki beton dengan cara grouting.

Ciri – Ciri Besi Full SNI

Ciri – Ciri Besi Full SNI – Besi tulang beton merupakan salah satu unsur utama dalam membangun beton struktur dan merupakan bagian yang vital. Kualitas dan kuantitas BTB (Besi Tulang Beton) akan berbanding lurus terhadap dimensi beton yang ingin dibuat atau direncanakan. Pembangunan struktur beton dengan dimensi yang semakin lebar akan memerlukan besi beton yang lebih banyak.

Ciri – Ciri Besi Full SNI

Di Indonesia sendiri semua produk yang beredar haruslah memenuhi persyaratan kualifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), hal ini juga berlaku untuk BTB. SNI adalah satu – satunya standar yang berlaku secara nasional yang disusun oleh Panitia Teknik dan Badan Standarisasi Nasional (BSN), walau begitu tetap saja masih ada BTB yang beredar di pasaran yang tidak memiliki cap SNI. Jenis besi tersebut orang – orang sering menyebutnya dengan besi non SNI, besi non full atau besi banci.

Karena memiliki dimensi yang jelas maka besi beton dapat diukur kualitasnya, selain itu besi beton juga mempunyai parameter lainnya untuk menentukan kualitasnya. Karena hal ini panjang dan dimensi besi beton juga telah memiliki standarnya tersendiri, namun kenyataannya masih banyak besi yang dibuat dengan dimensi tidak sesuai dengan SNI.

Biasanya besi non SNI juga mempunyai pangsa pasarnya tersendiri yaitu guna memenuhi proyek properti pribadi. Penggunaan besi non SNI ini biasanya adalah untuk menekan biaya pembangunan, akan tetapi hal ini mengakibatkan bangunan tidak memiliki standar yang jelas dan biasanya akan sulit terukur.

Berdasarkan bentuk penampangnya, ada dua jenis besi beton yang di perjual belikan yaitu besi polos dan besi ulir. Besi polos (BJTP) adalah besi yang mempunyai penampang berbentuk bundar dengan permukaan yang rata dan tidak bersirip, sedangkan besi ulir atau besi sirip (BJTP) adalah besi yang dibuat dengan bentuk khusus dengan permukaanya memiliki sirip melintang dan rusuk memanjang. Bentuk ini pada besi sirip berfungsi untuk meningkatkan daya lekat dan menahan gerakan membujur dari batang secara relatif.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ciri – ciri besi full SNI :

1. Label

Pemberian label (marking) adalah hal wajib yang harus dilakukan oleh para produsen besi beton untuk menandai produk buatannya, label tersebut biasanya berupa huruf timbul yang menunjukkan inisial perusahaan produsen dan ukuran diameter nominalnya. Label ini dicetak pada bagian ujung penampang besi menggunakan warna permanen dengan warna yang disesuaikan dengan kelasnya dan juga tidak mudah terhapus. Biasanya dalam label tersebut inisial produsen, warna, nomor heat, nomor seri produksi, tanggal produksi dan nomor SNI.

2. Kekuatan

Besi beton yang telah mengantongi SNI mempunyai standar tingkat kekuatan yang sudah ditentukan, sebagai contoh standar kekuatan besi polos sering diistilahkan sebagai BJTP 24. Sedangkan standar kekuatan dari besi ulir memiliki tingkatan yang dimulai dari BJTS 30, BJTS 35, sampai dengan BJTS 40 yang dapat Anda ukur menggunakan sebuah alat yang bernama hardness tester. Alat tersebut mampu menguji kekuatan logam seperti besi dengan mengukur tingkat kekerasannya.

3. Warna

Pemberian warna ini sudah disinggung di atas pada saat pemberian label, gelang warna akan menunjukkan kualitas besi tersebut. Umumnya besi dengan kualitas BJTP 24 akan ditandai dengan pemberian gelang warna hitam, berbeda dengan BJTP 30 dan BJTS 30 yang akan diberi label berwarna biru. Sedangkan BJTS 35 diberi label berwarna merah, BJTS 40 diwarnai kuning, namun pemberian warna ini juga dapat ditentukan oleh perusahaan itu sendiri.

4. Dimensi

Besi SNI mengharuskan besi beton yang dibuat dengan standar dan harus dibuat dengan dimensi sesuai ketentuan, meskipun mengalami perbedaan ukuran namun hal ini dibatasi hanya satu persen saja. Oleh karena itu sebagai konsumen maka Anda harus cermat dalam memperhatikan hal ini, sebagai contoh BJTP 10 yang seharusnya dibuat dengan diameter 10 mm, jadi bila ukurannya berkurang banyak maka Anda harus menyadarinya. Bila ukurannya berkurang 0,9 mm saja hal ini akan sangat berdampak pada kualitas bangunan tersebut. Anda juga harus memperhatikan panjang besi pula, biasanya besi SNI dibuat dengan panjang 12 m. Jadi jika panjangnya sudah berkurang hingga 0,5 m saja maka sebaiknya jangan Anda beli.

5. Harga

Tentu besi SNI dengan kualitas yang baik juga akan sebanding dengan harganya, jadi bila Anda menemui besi SNI yang dijual jauh dari harga umumnya maka ada indikasi bahwa besi tersebut bukan kualitas SNI. Jarak antara toko dan produsen juga akan menyebabkan harga yang semakin mahal karena biaya pengiriman yang semakin mahal.

Konstruksi Balok Beton Kuat

Konstruksi Balok Beton Kuat – Balok yang memiliki banyak fungsi mempunyai peran yang sangat penting dalam konstruksi beton. Balok menjadi elemen pengikat pasangan dinding, kolom – kolom, tumpuan konstruksi atap dan juga menjadi penyalur beban bangunan ke kolom, dalam hal ini balok kantilever dapat dimanfaatkan untuk penyangga kanopi.

Konstruksi Balok Beton Kuat

Bahkan pada bangunan bertingkat, balok juga difungsikan sebagai pelat lantai, balok disini berfungsi sebagai penguat horizontal yang menahan tegangan tarik dan tekan. Oleh karena itu karena fungsinya yang penting membuat balok harus mempunyai kualitas yang baik, salah satu ciri balok yang berkualitas adalah memiliki tingkat kekerasan yang baik. Lantas seperti apakah ciri balok yang keras tersebut?

Ciri – Ciri Balok Beton yang Kuat

Secara umum ada dua jenis balok beton yang umum digunakan yaitu balok tulangan maupun tanpa tulangan. Kebanyakan beton memang kuat terhadap gaya tekan, akan tetapi lemah terhadap gaya tarik. Karenanya apabila balok beton mendapat beban yang menimbulkan tegangan tarik melebihi kuat tariknya maka dapat menyebabkan balok beton tersebut mengalami keretakan.

Karenanya disini penggunaan baja tulangan sangat penting untuk menahan gaya tarikan tersebut yang mungkin akan terjadi, disini kekuatan balok beton diperbesar oleh baja tulangan. Balok beton bertulang memiliki kemampuan menahan gaya tarik lebih besar, jadi dengan kata lain balok beton bertulang memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan balok tanpa tulangan.

Kekuatan balok beton bertulang secara prinsip juga terlihat dari tampilan fisik serta daya tahannya, disini daya tahan akan berbanding lurus dengan kekuatan. Jadi kesimpulannya semakin besar daya tahannya maka kekuatan balok beton juga akan semakin kuat. Balok beton dengan daya tahan yang baik dan juga tingkat kekuatan yang baik akan memiliki ciri fisik sebagai berikut :

1. Padat dan tidak bercacat

Balok beton harus padat dan tidak bercacat yang berarti pada balok tidak terdapat rongga – rongga atau cacat apapun yang akan memicu keropos dan berpotensi mengurangi kekuatannya. Apabila balok beton semakin padat maka kekuatannya dalam menahan beban bangunan juga akan semakin besar.

2. Kedap air (tidak berpori)

Tingkat kepadatan beton yang semakin tinggi juga akan berpengaruh terhadap sifat kedap airnya. Kerapatan yang tidak maksimal disini juga akan mengakibatkan porositas yang berpengaruh terhadap kuat tekan beton, hal ini mengakibatkan daya dukung dan daya tahan balok beton menurun.

3. Memiliki daya tahan yang baik

Balok beton yang kuat juga akan memiliki daya tahan yang baik, entah itu daya tahan terhadap perubahan suhu maupun pelapukan yang akan memicu kerapuhan pada balok beton. Apabila balok beton mempunyai kekuatan yang baik maka balok beton tidak memerlukan perlindungan terhadap pelapukan seperti halnya kayu yang kuat. Kekuatan balok beton sendiri dapat diukur menggunakan alat uji NDT seperti halnya hardness tester yang dapat mengukur tingkat kekerasan suatu material.

Aspek – Aspek yang Mempengaruhi Kekuatan Balok Beton

Balok beton yang kuat sendiri karena dipengaruhi oleh beberapa faktor baik itu pengaruh secara langsung maupun tidak langsung, berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan balok beton :

a. Material beton dan tulangan

Tentu pertama – tama, kuat tidaknya balok beton karena dipengaruhi oleh material penyusunnya. Dalam hal ini meliputi material campuran beton dan besi tulangan dimana kualitas material penyusun seperti semen, agregat halus (pasir), agregat kasar (split) dan air harus menurut standar SNI. Hal ini juga masih harus diimbangi dengan kualitas baja tulangan yang baik pula.

b. Pembesian

Fungsi pembesian pada balok bertulang sendiri berfungsi untuk menahan gaya tarik yang nantinya akan timbul. Pembuatan tulangan balok beton ini telah ditetapkan menggunakan standar SNI, sebagai contohnya tulangan memanjang yang dipasang pada serat – serat beton yang mengalami tegangan tarik. Disini tulangan longitudinal dipasang searah sumbu batang dan pada ujung balok dekat tumpuan dipasang tulangan serong atau begel berjarak rapat. Hal ini berguna untuk mengantisipasi gaya geser, lintang dan sebagainya.

c. Material dan pemasangan bekisting

Papan bekisting yang dipakai harus rata serta bersih, penggunaan bekisting bekas yang kotor oleh sisa beton kering berpotensi menghasilkan balok keropos. Pada tiap celah bekisting harus ditutup rapat agar tidak bocor dan perancah harus kuat menyangga hingga beton kering dan mengeras. Dengan dimensi balok yang tepat dan bekisting yang baik maka akan menjamin kekuatannya.

d. Pengadukan dan pengecoran

Rasio jumlah bahan harus sesuai dengan mutu beton yang direncanakan, selain itu pengadukan dilakukan secara tepat sehingga diperoleh beton dengan kekentalan homogen. Untuk menjaga kualitas beton disini Anda dapat menggunakan mesin pengaduk beton dan dapat juga memesan beton siap pakai, saat dituang beton harus dalam kondisi plastis.

Saat pengecoran juga harus dilakukan pemadatan menggunakan batang kayu / besi atau vibrator untuk mendapatkan kepadatan yang merata. Kemudian sisi luar bekisting dapat diketuk – ketuk menggunakan palu, pemadatan disini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya segregasi dan terbentuknya rongga.

e. Pelepasan bekisting dan perawatan

Saat beton benar – benar kering dan mampu menahan beban sendiri barulah disini bekisting dapat dicopot pemasangannya. Setelah bekisting dilepas harus dilakukan perawatan (curing) balok beton dengan membasahi beton secara berkala selama waktu tertentu, hal ini bertujuan untuk mengurangi penguapan air agar beton mengering perlahan sehingga tercapai kepadatan dan kekuatan optimal.

Menguji Kekuatan Struktur Beton

Menguji Kekuatan Struktur Beton – Bangunan adalah suatu konstruksi terstruktur yang terdiri dari dinding, tiang, pondasi, atap, dll untuk keperluan tertentu sesuai dengan kebutuhan pemiliknya. Akan tetapi secara umum bangunan terdiri dari 2 struktur utama yaitu struktur atas dan bawah.

Menguji Kekuatan Struktur Beton

Struktur bawah merupakan struktur bangunan yang terpendam di bawah tanah seperti pondasi dan sloof untuk menopang beban bangunan atas untuk menyalurkan beban ke dalam tanah agar gaya yang terjadi tetap stabil. Berbeda dengan struktur atas yang memang berada di atas tanah kolom, balok, plat dan atap yang berbeda dari segi fungsinya.

Pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik sangat rawan terhadap keruntuhan, oleh karenanya dibutuhkan ketepatan dan ketelitian tinggi dalam merancang struktur bangunan serta berbagai pengujian agar mengetahui tingkat keamanan pada bangunan itu.

Pengujian ini salah satunya adalah pengujian tingkat kekerasan beton bangunan, kekerasan beton sendiri akan berpengaruh pada kekuatan bangunan. Pengujian ini dapat dilakukan menggunakan alat uji NDT seperti halnya hardness tester.

Pembuatan beton haruslah sesuai dengan standar yang telah ditentukan untuk menahan beban mati (dead load), beban hidup (live load), beban gempa (earthquake) dan beban angin (wind load) agar setiap komponen bekerja dengan baik dan maksimal.

Akan tetapi kekuatan beton dapat berkurang karena ada empat hal, yaitu :

  1. Faktor alam
  2. Faktor getaran akibat gempa
  3. Faktor mutu dan bahan bangunan yang kurang baik
  4. Faktor pemeliharaan yang kurang

Untuk mengetahui kondisi beton apakah masih baik atau perlu direnovasi dapat dilakukan dengan melakukan pengujian NDT, pengujian ini merupakan pengujian yang tidak merusak bahan uji atau Non Destructive Test (NDT).

Anda dapat menggunakan alat Concrete Covermeter Test Rebar Detector yang berfungsi untuk menguji pengukuran pada beton dengan cara menempelkan alat scan pada beton. Kemudian bagian – bagian di dalam beton akan langsung terlihat melalui angka, setelah melakukan pengujian langsung diberi tanda pada beton yang rusak tersebut.

Cara menggunakan alat Concrete Convermeter Test sangatlah mudah yaitu :

  1. Tempelkan sensor atau alat scan pada objek beton yang ingin di uji
  2. Kemudian hasil akan terlihat pada layar monitor
  3. Catat angka yang dihasilkan oleh hasil pengujian untuk melakukan analisa selanjutnya.

Cara merawat alat ini juga sangat mudah

  1. Setelah pengujian, lepaskan beberapa instrument dan bersihkan dengan kain kering
  2. Simpan alat ditempat kering dan jauhkan dari air terutama pada bagian sensor.