Pengukur Biji Pasca Panen Jagung

Pengukur Biji Pasca Panen Jagung


biji-jagung

Tanaman jagung dapat dipanen apabila sudah mencapai matang fisologis Di Indonesia, bagian terbesar dari produksi jagung dimanfaatkan untuk keperluan industri pakan, sedangkan jumlah yang dikonsumsi langsung dan digunakan dalam industri pangan relatif kecil. Sebagian kecil lagi jagung ditanam untuk dikonsumsi sebagai sayuran, yaitu jenis jagung manis, tetapi dipanen lebih muda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai produk biji-bijian.

 

Setelah mencapai Usia matang secara fisologis tanaman jagung baru dapat dipanen dimana hal ini tergantung kepada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi masa panennya yaitu :

  • Tanaman jagung sendiri siap panen apabila sudah terlihat pada lapisan hitam di ujung bijinnya dan Klobot (Kulit tongkol) sudah kering akan berwarna coklat muda. Usia panen jagung itu sendiri akan dilakukan apabila jagung berusia / berumur antara 7-8 minggu, penampakan biji jagung tampak lebih mengkilap jika kita kupas, juga biji pada saat ditekan tidak akan meninggalkan bekas , serta kadar air dalam bijinya sudah mencapai kurang lebih berkisar 35-40 %, mengapa kita harus tahu mengenai hal ini karena kadar air biji pada tanaman seperti jagung ini saat panen mempengaruhi volume juga mutu hasilnya , jika proses panen kita lakukan pada kadar air yang rendah dibawah (17- 20%), akan menyebabkan terjadinya susut hasil akibat tercecer sebesar 1,2 – 4,7% dan susut mutu 5- 9%. Tetapi jika dilakukan panen pada kadar air tinggi (35- 40%), susut hasil akibat tercecer mencapai 1,7- 5,2% dan susut mutu 6- 10%.

 

Jika para petani melakukan panen lebih awal atau belum mencapai usia matang secara fisiologis dapat dipastikan kualitas dari produksi itu menurun selain akan menghasilkan banyak butir mudanya yang berakibat apabila jagung disimpan daya simpan dari jagung tersebut menjadi cepat busuk atau rendah. begitu pula sebaliknya jika kita terlambat melakukan panen juga sangat berpengaruh terhadap rusaknya biji jagung akibat serangan hama ataupun lingkungan.

Ukur Kadar Air Digital ( Jv-010s )
    Ukur Kadar Air Digital ( Jv-010s )

Panen juga jangan dilakukan pada musim hujan menyebabkan biji jagung mudah berjamur sehingga biji akan terkontaminasi aflatoksin, yaitu metabolit beracun yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus yang dapat meracuni manusia dan hewan. Maka penentuan saat panen jagung yang paling tepat selain memperhatikan ciri-ciri matang fisiologis pada tongkol, juga menentukan umur tanaman mencapai paling optimal. Perhatikan cuaca saat kita mulai bercocok tanam jagung sehingga pada masa panen lebih maksimal juga hasil kualitas jagung itu sendiri tinggi yang tentu akan mempengaruhi harga jual jagung setelah panen nantinya.

Cara pemanenan tanaman jagung dilakukan secara manual dengan tangan, dengan menentukan tanaman (pohon) yang bertongkol matang fisiologis kemudian tongkol dipetik dengan tangan hingga terlepas dari batangnya. Jika tidak segera dikonsumsi atau dijual, jagung sebaiknya dipanen bersama klobotnya agar biji tidak mudah rusak dan dapat disimpan selama 3-4 bulan. Kemudian lakukan proses pengeringan atau penyimpanan jagung berupa para-para dalam jumlah yang cukup.

Kita harus segera melakukan panen apabila tahu ataupun produk biji-bijian pada tingkat kadar masih tinggi (lebih dari 30%) ataupun ketika kadar air jagung sudah cukup rendah (20-25%), perontokan, dan pengeringan, baik pengeringan jagung tongkol maupun jagung pipil. Diera sekarang banyak sekali alat instrumen apabila kita mengetahui kadar air biji-bijian yaitu diantara menggunakan alat moisture meter / pengukur kadar air biji seperti misalnya Pengukur Kadar Air pada Bijian Seri JV-002S , Grain Moisture Tester JV-001S, Ukur Kadar Air Digital ( Jv-010s ) juga Pengukur Kadar Air Bijian seri Mc-7825G dan masih banyak lagi.

Untuk mengatasi dalam menangani proses panen jagung Masa tingkat kemasakan dapat kita bagi menjadi dua :

1.Masa Lunak / Susu dimana ini terdiri dari panen, pengemasan segar dan penyimpanan

2.Masak tua dan masak mati terdiri dari proses panen, pengeringan tongkol, penyimpanan tongkol, pemipilan,pengeringan dan penyimpanan terhadap jagung pipilan tersebut.

Berikut adalah Tahapan penanganan jagung tongkol yaitu :

  • Pengumpulan hasil, dimana proses kita kumpulkan hasil panennya ditempat yang teduh dan strategis sambil melakukan sortasi tongkol yang terserang hama atau penyakit
  • Pewadahan, yaitu memasukkan ke dalam kantong goni atau wadah lain secara teratur
  • Pengangkutan
  • Pengeringan tongkol dengan cara mengeringkan tongkol satu persatu dalam bentuk ikatan-ikatan berisi 10 tongkol atau ikat dengan cara menjemur di atas lantai
  • Penyimpanan, yaitu pada ikatan-ikatan tongkol disimpan digudang penyimpanan atau diatas tungku dapur dengan cara digantung pada tali atau bilah bambu. Sedangkan untuk penanganan jagung pipilan sama seperti penanganan jagung tongkol, hanya setelah pengeringan dilakukan kegiatan pemipilan, pengeringan ulang dan penyimpanan dengan segera.

Pengukur Biji Pasca Panen Jagung adalah proses dimana kita melakukan pengukuran terhadap kadar air pada biji jagung sehingga mendapatkan data secara akurat juga spesifik dimana hal ini akan menguntungkan juga menjadi ukuran yang standar bagi kedua belah pihak. bagi para petani sendiri bisa melakukan tindakan lebih cepat untuk segera melakukan panennya begitu pula bagi para pelaku usaha yang berusaha mendistribusikannya.

Posted in Uncategorised

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *